![]() |
Gambar Kerjasama |
Pernahkah
Anda membayangkan bahwa suatu saat Anda memiliki suatu usaha atau perusahaan
dan Anda membutuhkan kehadiran orang atau pihak lain untuk diajak bekerja sama
mengelola usaha Anda? Atau pernahkah Anda membayangkan suatu saat ada teman
lama yang mengajak
Anda untuk membantu
usahanya atau mengajak bekerja sama mengelola suatu usaha?
Andai saja yang terbayangkan oleh Anda adalah keadaan yang pertama, siapakah
yang akan Anda ajak untuk bekerja sama, kemudian apa yang Anda persiapkan untuk
kerja sama tersebut? Sedangkan, andai saja yang terbayangkan oleh Anda adalah
Anda diajak kerja sama usaha oleh teman Anda, siapakah Anda, apakah Anda akan
langsung menerima ajakan atau tawaran kerja sama tersebut?
Untuk
menjawab dua kemungkinan di atas, tentu tidak dapat dijawab begitu saja atau
seketika. Karena memutuskan untuk mengajak orang lain bekerja sama atau
memutuskan untuk bergabung dengan orang lain yang mengajak bekerja sama, sama-
sama membutuhkan pertimbangan yang matang. Hal ini sebagaimana yang diuraikan
pada bagian sebelumnya bahwa kerjasama pada dasarnya, memiliki maksud dan
tujuan “win-win solution” atau saling menguntungkan kedua pihak. Oleh karena
itu, memutuskan seketika tanpa pertimbangan yang matang dikhawatirkan akan
menimbulkan kekecewaan pada pihak yang bekerja sama.
Sebelum memutuskan siapa atau pihak mana yang akan diajak bekerja sama atau dijadikan mitra usaha, maka perlu diperhatikan rangkaian proses pengembangan kerja sama agar dari kerja sama tersebut memperoleh hasil yang optimal. Moh. Jafar Hafsah (2000), menjelaskan rangkaian urutan proses kerja sama tersebut sebagai berikut:
1) Memulai membangun hubungan dengan calon
mitra.
Hal ini
dimaksudkan agar kita dapat mengenal
pihak atau orang yang akan dijadikan calon mitra dengan baik dan tepat. Jangan
sampai kita salah memilih, yang
kata peribahasa ibarat
“membeli kucing dalam
karung”. Artinya, jangan sampai kita memilih calon mitra yang
tidak ketahui karakternya, kebiasaannya, track recordnya, latar belakangnya,
dan sebagainya.
Untuk
mendapatkan informasi yang lengkap mengenai calon mitra ini membutuhkan waktu
yang lama dan perlu peran pihak lain yang dapat membantu kita memberi informasi
mengenai calon mitra kita.
2) Mengerti kondisi bisnis pihak yang bermitra
atau bekerja sama.
Apabila
calon mitra kita adalah orang yang telah punya pengalamam berbisnis, maka kita
harus mengetahui bagaimana kemampuan manajemennya, teknologinya, sumber daya
manusianya dan sumber daya
finansialnya. Sedangkan, bila calon mitra kita adalah orang yang tidak
atau belum memiliki pengalaman usaha, maka kita pun patut untuk mengetahui
keahlian atau keterampilan serta modal apa yang dimilikinya, sehingga kita
layak mempertimbangkannya sebagai calon mitra usaha kita.
Hal di
atas penting, karena kerja sama usaha merupakan kesepakatan yang harus dijalankan
bersama dan menjadi tanggung jawab bersama sesuai dengan potensi atau kemampuan
masing-masing yang diberikan dalam kerja sama tersebut. Bila kita melihat bahwa
calon mitra kita tidak memiliki kemampuan atau potensi sebagaimana yang kita
harapkan, maka kita dapat mencari calon mitra lainnya. Namun, bila kita melihat
calon mitra tersebut telah memenuhi persyaratan yang kita inginkan, maka kita
dapat memutuskan bahwa inilah calon mitra kita yang tepat.
3) Mengembangkan strategi dan mengenal detail
bisnis.
Bila telah
ditetapkan calon mitra,
maka langkah selanjutnya
adalah bagaimana mengembangkan strategi usaha. Hal
ini dapat dilakukan dengan
cara membagi tugas dengan pihak yang
bermitra sesuai dengan informasi dan kemampuan yang dimiliki masing-masing.
Dengan strategi dan mengenal detail bisnis yang tepat, maka kita akan dapat
mengembangkan usaha secara tepat pula, sehingga akan mendatangkan keuntungan
kedua pihak (win-win solution).
4) Mengembangkan program.
Pengembangan program
merupakan langkah yang
dilakukan setelah mengembangkan
stategi bisnis dan merupakan rencana taktis yang akan dilaksanakan. Hal ini
kemudian perlu diinformasikan kepada semua pihak yang akan terlibat dalam kerja
sama tersebut, sehingga semua pihak siap untuk melaksanakannya.
5) Memulai pelaksanaan.
Setelah
semua siap, barulah usaha dalam bentuk kerja sama atau kemitraan tersebut dilaksanakan.
Dalam awal pelaksanaan perlu dicek kesiapan-kesiapan serta memprediksi
kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
6) Memonitoring dan mengevaluasi perkembangan
Selama proses
pelaksanaan perlu ada
monitoring, sehingga dapat
di evaluasi kekurangan-kekurangan atau
hambatan-hambatan yang dihadapi.
Dengan melakukan monitoring dan evaluasi, maka selanjutnya dapat
dilakukan penyesuaian atau perbaikan-perbaikan sebagaimana yang diperlukan.
Bila
digambarkan urutan proses membangun kerja sama tampak di bawah ini:
No comments:
Post a Comment