loading...

Wednesday, February 11, 2015

Kisah Raja Monyet yang Melindungi Warganya


Intisari-Online.com – Alkisah, ada kerajaan monyet di sebuah hutan. Raja Monyet itu sangat besar, sangat baik, dan bijaksana. Suatu hari, Raja Monyet sedang berjalan-jalan dan ia melihat pohon mangga di sepanjang sisi sungai. Ia juga melihat sebuah kerajaan manusia di hilir sungai. Ia kemudian memerintahkan monyet-monyet untuk mengambil semua mangga dari pohon itu, “atau akan ada bencana.” Monyet-monyet itu tidak mengerti maksud Raja mereka, tetapi mereka melakukan apa yang diperintahkan. Semua mangga diambil dari pohon-pohon itu, kecuali satu. Yang satu ini tempatnya agar tersembunyi.
Hingga pada suatu hari, mangga ini sudah matang dan jatuh ke sungai. Sungai itu mengalir hingga ke hilir di mana Raja manusia sedang mandi. Ia melihat mangga itu dan menanyakan kepada Perdana Menteri apakah itu. Perdana Menteri mengatakan bahwa itu adalah “mangga”, buah dengan rasa eksotik. Raja kemudian memerintahkan agar mangga itu dipotong-potong kecil dan ia memberikan sepotong kecil untuk masing-masing menterinya. Setelah melihat ternyata mangga itu tidak beracun, ia memakan sisanya dan menyadari betapa lezatnya buah itu. Ia pun menginginkan lebih.
Keesokan harinya, raja manusia dengan pasukannya, pergi ke hulu untuk buah-buahan itu lebih banyak. Memang banyak pohon mangga, tetapi juga banyak monyet. Raja manusia tidak ingin berbagi mangga itu dengan monyet, sehingga ia memerintahkan mereka untuk di bunuh. Ah, pembantaian pun dimulai.
Kabar itu sampai kepada Raja Monyet, ia hanya berkomentar, “Hari telah tiba.” Ribuan monyet dikejar sampai ke tepi hutan. Ada tebing dalam di tepi hutan, dan hutan bambu di sisi lain dari tebing. Raja Monyet melihat jika rakyatnya bisa menyeberang ke hutan bambu, maka mereka akan selamat.
Dengan tubuhnya yang tinggi besar, ia menjadi sebuah jembatan di atas tebing dan ribuan monyet berlari di atasnya untuk mencari selamat ke hutan bambu. Ia mengalami semua rasa sakit. Salah satu monyet itu tidak suka kepada Raja dan ia melihat ini sebagai sebuah kesempatan. Saat ia sedang menyeberang melalui tubuh Rajanya, ia menusuk tombak hingga melukai jantung Raja. Raja menjerit kesakitan, tapi ia menahan rasa sakitnya hingga semua rakyatnya aman di seberang. Kemudian ia pingsan.
Raja manusia menyaksikan semuanya. Ia sangat tersentuh. Lalu, ia memerintahkan agar Raja Monyet diselamatkan. Ketika Raja Monyet pulih kesadarannya, Raja Manusia bertanya, “Anda adalah Raja mereka, kenapa Anda repot-repot mati untuk mereka?”
Raja Monyet menjawab, “Karena aku adalah Raja mereka.” Setelah itu, ia mati.
Raja manusia sangat tesentuh, hingga ia memutuskan untuk menjadi seorang raja yang baik sejak saat itu. Ia pun memerintahkan agar monyet-monyet di hutan bambu dilindungi dari bahaya selamanya.

http://intisari-online.com/read/kisah-raja-monyet-yang-melindungi-warganya

Melepaskan Sapi

author : K. Tatik Wardayati

Intisari-Online.com – Suatu hari Sang Buddha sedang duduk bersama dengan tiga puluh atau empat puluh biarawan. Mereka makan siang dan menikmati perbincangan satu sama lain. Tiba-tiba ada seorang petani yang lewat dan petani itu terlihat sangat bahagia. Ia bertanya kepada Sang Buddha dan para biarawan itu apakah mereka melihat sapi-sapinya lewat. Sang Buddha mengatakan mereka tidak melihat ada sapi yang lewat.
Kata petani itu, “Para bhikku, aku sungguh sedih. Aku memiliki dua belas ekor sapi dan aku tidak tahu mengapa mereka semua lari. Aku juga punya beberapa hektar perkebunan biji wijen dan serangga memakan semuanya. Aku menderita begitu banyak, aku pikir aku akan bunuh diri.”
Sang Buddha berkata, “Teman, kami belum melihat ada sapi lewat sini. Anda mungkin ingin mencari mereka ke arah lain.”
Petani itu pun mengucapkan terima kasih dan lari. Buddha beralih ke para biarawan dan berkata, “Teman-teman yang terkasih, Anda adalah orang paling bahagia di dunia. Anda tidak merasa kehilangan sapi. Jika Anda memiliki terlalu banyak sapi yang dirawat, Anda akan sangat sibuk.
Itu sebabnya, untuku menjadi bahagia, Anda harus belajar seni melepaskan sapi. Anda melepaskan sapi satu per satu. Pada awalnya Anda berpikir bahwa sapi-sapi penting untuk kebahagiaan Anda, dan Anda mencoba untuk mendapatkannya lebih banyak dan lebih banyak sapi. Tapi sekarang Anda menyadari bahwa sapi tidak benar-benar memberi kebahagiaan pada Anda. Mereka justru merupakan kendala bagi kebahagiaan Anda. Itulah sebabnya, Anda harus bertekad untuk melepaskan sapi Anda.”

http://intisari-online.com/read/melepaskan-sapi

Kisah Sebuah Cangkul


Intisari-Online.com – Seorang petani membajak tanah dengan cangkulnya, hari demi hari, tahun demi tahun. Pekerjaan itu sulit, tapi panen berlimpah. Namun, suatu hari ia tidak bisa bertani tetapi bertanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa saya bekerja begit keras? Hidup ini tidak berarti dan membosankan! Ke mana sebenarnya tujuan hidup saya?”

Tak lama kemudian, seorang biksu datang ke rumahnya untuk meminta sedekah. Biksu itu tampak bebas dan bahagia, petani itu sangat terkesan. Menjadi seorang biarawan dan menjalani kehidupan yang tidak terbebani tampaknya  mengagumkan. Ah, ide yang baik! Petani itu dengan riang memutuskan untuk melepaskan segalanya dan menjadi seorang biksu.
Setelah ia meninggalkan rumahnya, ia tiba-tiba merasa betapa kosong tangannya. Ia terbiasa memegang cangkul di tangannya. Kini, bekerja tanpa cangkul, ia merasa sedikit kehilangan. Oleh karena itu, ia kembali ke rumahnya, mengambil cangkul, dan berusaha keras memikirkan apa yang bisa dilakukannya dengan itu. Cangkul miliknya sangat bagus. Halus dan mengkilap karena penggunaan sehari-hari. Sungguh sayang bila dibuang.
“Oh, kalau begitu,” pikir petani itu, “Aku akan membungkusnya dan menyimpannya.” Ia menemukan tempat yang aman di rumah untuk menyembunyikannya. Sekarang semuanya dapat ia selesaikan. Dengan pikirannya yang tenang, petani itu akhirnya meninggalkan rumahnya.
Petani itu melakukan semua yang ia bisa untuk memenuhi persyaratan menjadi seorang biksu yang benar. Namun, ia tidak bisa berhenti memikirkan cangkul setiap kali ia melihat sawah hijau. Sesekali, ia akan buru-buru kembali ke rumahnya untuk merasakan cangkulnya dan kemudian kembali lagi ke kuil.
Waktu berlalu dengan cepat. Setelah tujuh atau delapan tahun, ia merasa ada sesuatu yang hilang. “Mengapa saya tidak memenuhi impian saya untuk menjadi bebas, biksu bahagia setelah berusaha keras menumbuhkan moralitas saya? Ada sesuatu yang belum saya lepaskan. Sekarang saatnya untuk menyingkirkan beban saya!”
Petani itu bergegas kembali ke rumah, mengambil cangkul, dan melemparkannya ke danau. Byurr, dan cangkul itu pun tenggelam! “Saya menang! Saya berhasil!” ia tidak bisa menahan tangis gembira dengan suara keras.
Tepat pada saat itu, seorang raja, yang memimpin tentara yang menang dari pertempuran, kebetulan lewat. Ia mendengar teriakan biarawan itu dan bertanya, “Apa yang Anda menangkan? Mengapa Anda begitu ceria?”
Biksu itu berkata, “saya telah mengalahkan setan dalam hati saya. Saya telah membiarkan semua beban saya pergi.”
Raja melihat bahwa biksu itu benar-benar bahagia dan bebas dari beban duniawi dan delusi. Raja berpikir, “Sekarang aku telah memenangkan perang. Kemenangan ini adalah milikku. Tapi apakah aku benar-benar bahagia? Aku mengambil tanah yang bukan milikku. Ini bukan kemenangan yang nyata.” Raja menyadari meskipun ia telah memenangkan perang, ia bukan pemenang nyata, tapi orang biasa yang dibebani dengan kejengkelan hidup. Ia menyadari bahwa untuk menjadi pemenang sejati, Anda harus menaklukkan setan dalam hati Anda.

http://intisari-online.com/read/kisah-sebuah-cangkul